“Jangan pernah diperbudak oleh cinta, karena cinta laksana air laut yang membuat orang semakin dahaga bagi yang meminumnya”
Ok, fren…kita ketemu lagi nih. Moga gak bosen baca blog ini (*mang sapa yang baca, hehehe*). Sebelum lebih jauh cuap-cuap, saya ingin memperjelas terlebih dahulu maksud judul di atas. Di sini saya tidak bermaksud mengkritik orang yang memiliki kepribadian melankolis seperti yang dijelaskan panjang lebar oleh buku Personality Plus punya “Florence Litteur”, namun di sini melankolis yang saya maksud adalah sikap seseorang yang begitu men”dewa”kan cinta, hidup untuk cinta, dan apa pun itu lah (ngerti kan maksudnya???).
Mengapa saya menyoroti “melankolisme di kalangan pemuda” (*bener gak ya istilahnya?*)? Dilatarbelakangi dengan semakin bermunculannya film-film layar lebar, sinetron, dan bahkan kartun yang bernuansa cinta, saya mulai menganalisis diri saya sendiri terlebih dahulu berikut juga hal-hal di sekitar saya. Banyak hal-hal menarik yang saya temukan terkait dengan hal ini. Dan memang hal ini benar-benar terjadi pada diri saya dan juga teman-teman saya. Lebih jelasnya akan dipaparkan di bawah ini.
*Kembali mengenang masa-masa SMA dulu*
Jujur, saya dulu memang pernah mengagumi salah seorang teman saya yang cukup terkenal di kalangan teman-teman saya satu geng ijo lumut (Ikatan jomblo lucu dan imut, hehehe…). Dia seorang putri (sebut saja “bunga”) yang cukup cantik, tegar, dan sholihah. Tapi, dulu saya adalah pelajar yang masih cupu (cukup pinter, hehehe…:D ) , sehingga saat itu saya hanya bisa diam, menunggu, dan berdo’a. Satu hal yang saya sukai dari dia dan membuat saya begitu kagum padanya adalah saat saya memandang dan mengingatnya. Entah kenapa, saya juga tidak tahu, saat-saat itu ada sensasi lain yang saya rasakan, perhatian saya tidak hanya tertuju padanya, tapi saya juga teringat pada dosa-dosa saya, teringat betapa iman ini cukup rendah dan banyak hal lain sehingga saya saat itu begitu semangat dalam beribadah. Begitu juga saat diri ini futur, diri bisa kembali semangat beribadah ketika mengenang dan mengingatnya.
Cerita lain yang cukup menarik, adalah pengalaman yang baru saja dialami oleh teman saya (sebut saja “J”). Dia telah berpacaran dengan adik kelasnya sejak SMA (sebut saja T) hingga dia hampir lulus kuliah. Namun pada akhirnya dia harus putus dengan kekasihnya tersebut dikarenakan ada seseorang yang bisa mengisi dan menggantikan J di hati T. Sungguh kasihan nasib J saat itu, dia harus menahan rasa sakit karena tidak bisa melupakan kenangan manis yang telah dilewati bersama-sama sehingga hidupnya menjadi tidak produktif karena terbebani masalah tersebut
Mungkin teman-teman tidak akan merasa aneh dan asing ketika membaca dan mengetahui cerita tersebut, namun ada sesuatu hal yang perlu teman-teman perhatikan terkait dengan dua ilustrasi cerita di atas. Dalam cerita yang pertama, di situ penulis menggambarkan bahwasanya cinta ternyata memiliki sisi positif sehingga membuat si F dapat termotivasi dalam beribadah dan mendekat kepada Allah SWT. Dalam cerita yang kedua, ternyata cinta dapat membuat seseorang yang terlibat dalam percintaan tsb menjadi sakit hati dan kehilangan produktifitas hidup. Dan mungkin masih banyak hikmah yang bisa dipetik dalam kisah percintaan.
Namun bukan itu yang ingin dibahas, ada hal esensial lain yang perlu diketengahkan dalam situasi gonjang-ganjingnya kehidupan saat ini. Walaupun ini bukan hal urgent, tapi jika dibiarkan terus-menerus akan dapat merusak generasi bangsa ke depannya. Seperti yang diungkapkan dalam judul tulisan ini yaitu tentang sikap melankolis yang berlebihan yang dialami anak muda saat ini. Penulis tidak heran jika saat ini hal tersebut semakin menjadi-jadi, karena memang telah banyak propaganda yang digencarkan oleh oknum tak bertanggung jawab agar membuat penerus bangsa menjadi lemah karena “cinta”, hilang akal sehatnya, dan melupakan nasib bangsa yang semakin terpuruk dalam segala lini. Maraknya film-film gak jelas yang bertemakan cinta, “valentine day”, reality show tentang percintaan, gaya hidup berpacaran dan hal yang lainnya sedikit demi sedikit telah menggerogoti akidah dan iman bangsa ini.
Lantas harus seperti apakah pemuda penerus bangsa ini? Mungkin gampangnya ya kita negasikan aja pernyataan di atas menjadi “pemuda penerus bangsa seharusnya tidak boleh melankolis”. Namun jika berbekal penegasian topik di atas, maka cukuplah absurd untuk dapat mempersiapkan pemuda mengisi pos-pos yang nantinya akan ditinggalkan oleh generasi tua. Untuk dapat menegakkan kembali “izzah” bangsa yang telah tertindas cukup lama ini, maka setidak-tidaknya ada empat pilar yang harus ditegakkan dalam diri seorang pemuda. Berikut ini akan dijelaskan secara ringkas.
Adalah penting kita mengetahui sesuatu yang menggerakkan kita dan menjadi dasar dalam setiap langkah kita. Sesuatu ini pula yang menjadi parameter penilaian kebenaran dan tolak ukur dalam perbuatan yang kita lakukan. Untuk menjaga kemurnian dan kevalidan nilai tolak ukur tersebut, maka sesuatu tersebut tidak boleh terikat pada nilai duniawi (harta, kekuasaan, dll) sehingga sesuatu itu akan tetap menjaga dan mengingatkan segala tindak-tanduk pemuda yang kan meneruskan cita generasi tua saat ini. Dan, sesuatu itu adalah iman yang benar dan kokoh. Jika iman kita benar dan hanif tentu saja kita akan dapat bersikap obyektif, adil dalam memutuskan, dan juga akan terbebas dari ketergantungan pada makhlukNya (manusia, harta, dll) sehingga segala keputusan yang diambil benar-benar datang dari hati nurani dan berpijak pada nilai-nilai kebenaran. Dengan iman yang kokoh tentunya akan membuat pemuda tersebut semakin tahan banting melawan segala resistansi kehidupan sehingga pondasi iman tersebut tidak akan mudah goyah dan roboh diterpa oleh variabel permasalahan hidup
Ketika pondasi itu telah tertanam dengan kuat di hati para pemuda, maka hal itu sudah cukup untuk dapat menjaga dan memfilter pemuda tersebut dari segala macam noise kehidupan. Namun hal itu belumlah cukup untuk dapat membangkitkan kembali izzah bangsa ini dari keterpurukannya. Diperlukan komponen lain yang dapat mengajak pemuda dan masyarakat lain untuk turut serta dalam perjuangan mulia ini. Komponen ini juga akan menjaga dan melindungi pondasi yang telah ditanam sebalumnya sehingga ketika pressure internal dan external begitu besar dan membuat pondasi menjadi retak dan hampir rusak maka komponen ini akan mengembalikan kembali keutuhan pondasi tersebut. Komponen tersebut juga akan melipatgandakan segala potensi dan kekuatan yang dimiliki oleh pemuda tersebut sehingga pemuda seolah-olah pemuda tersebut memiliki kekuatan tanpa batas. Dan komponen tersebut dikenal dengan nama ghiroh (semangat) dan azzam (kemauan) yang kuat
Ok, sejauh ini kita telah mendapatkan dua buah pilar yang cukup untuk dapat menopang cita-cita mulia kita. OK, ibaratnya suatu Personal Computer (PC) ataupun Laptop yang memiliki performansi yang cukup baik, maka akan sangat baik jika PC atau laptop tersebut dilengkapi oleh suatu antivirus ataupun firewall yang akan melindungi dari serangan virus yang dapat merobohkan sistem kokoh yang telah dibangun tersebut. Walaupun akan membuat kinerja komputer Anda menjadi agak lambat, namun antivirus akan benar-benar menjaga keamanan sistem komputer Anda apalagi ketika harus browsing di dunia yang maya ini. Sejauh ini, antivirus yang baik dan bisa saya rekomendasikan adalah “Ikhlas”. Dengan antivirus ini komputer akan aman dari serangan virus riya’ dan ingin dipuji sehingga niat kita akan selalu terjaga untuk mendapatkan ridlo-Nya. Antivirus ini akan membuat hidup Anda selalu bahagia karena komputer yang Anda miliki memiliki ketahanan yang kuat terhadap segala macam spyware, worm, maupun virus-virus yang akan membuat segala action Anda menjadi tidak bernilai pahala.
Komponen yang terakhir ini memiliki dimensi yang lebih kompleks, karena akan melibatkan segala pendukung yang terlibat dalam prosesi menuju kejayaan bangsa ini. Komponen ini akan memudahkan ataupun bisa mempersulit kejayaan tersebut untuk diperoleh. Komponen ini juga akan mengatur ritme perjuangan dan akan menjadi yang teramat indah. Komponen ini begitu penting ketika kita melangkah bersama-sama (kelompok / jamaah). Komponen ini selanjutnya dikenal dengan istilah tadhiyah (pengorbanan). Tanpa adanya pengorbanan, tidak akan ada hasil yang dicapai, karena tiap orang sibuk untuk berjuang sendiri-sendiri untuk menjadi yang terbaik dan terdepan di medan laga. Tanpa adanya komponen ini, tidak akan lahir pahlawan dan syuhada yang kan dikenal perjuangannya selama ini. Dan tanpa komponen ini, tidak akan pernah izzah itu muncul ke permukaan.
Rasanya cukup panjang saya telah bertutur kata, namun itu semua akan tersiakan jika tak ada yang mau tergerak hatinya untuk memulai termasuk diri pribadi ini. Semoga kita termasuk ke dalam kelompok pemuda yang menjadi ujung tombak perubahan bangsa ini ke arah yang lebih baik. Dan semoga perjuangan yang kita lakukan dapat menjadi bekal kita di akhirat nanti.
Mari siapkan diri untuk SAMBUT PERUBAHAN bangsa ini….