Hari ini, sama seperti pekan-pekan sebelumnya, adalah jadwal setor muka ke GIC (Gumi Islamic Center). Namun hari ini cukup spesial karena ada acara pernikahan TKI (Tenaga Kerja Indonesia) di kota Gumi yang menikah. Setidaknya ada dua alasan yang membuat acara ini cukup spesial. Pertama, sebagai mahasiswa dengan duit beasiswa yang terbatas, acara ini adalah momentum untuk perbaikan gizi (baca: makan enak) dan mengobati kerinduan akan masakan tanah air. Kedua, dan masih sebagai mahasiswa, acara ini adalah sebagai momentum untuk memantapkan diri untuk segera mempersiapkan diri menuju momen bersejarah tersebut.
Sekitar jam 12.30 WKST (waktu Korea Selatan), gw dan agi, salah seorang mahasiswa pemburu makanan gratis, meluncur menuju Gumi Islamic Center (a.k.a. masjid Alhuda / GIC) menggunakan bus 14. Sampai sana rupanya pas iqomah sholat dluhur. Gw pun segera mengambil air wudlu dan bergabung dengan shof jama’ah yang sudah sedari tadi berjajar rapi.
Ba’da sholat dan dzikir, Gw sempatkan berbicara sepatah-dua patah kata dengan agi, tentang hal-hal berbau pernikahan sampai Pak Toif (pengurus GIC) datang mendekat duduk di samping kiri gw. Dia menyodorkan kertas bertuliskan susunan acara. Perasaan gw mendadak gak enak.
“Favian, ini tolong di-cek dunk sudah bener belum susunan acara-nya”, kata Pak Toif meminta tolong ke gw.
“Wah, saya sudah agak lupa Pak, kenapa gak bertanya ke Pak Imam? Sepertinya beliau lebih mengerti”, gw menjawab sekena gw. Memang, beberapa bulan sebelumnya gw pernah menjadi MC acara pernikahan di GIC, tapi saat ini gw yang dalam posisi berniat menghadiri acara pernikahan untuk mendapatkan makanan gratis, ya terus terang memang agak lupa. Maklum dalam posisi belum sarapan dan makan siang otak agak kurang merespon dengan baik..
Kemudian, ternyata ada jama’ah lain yang sedari tadi memperhatikan perbincangan kami. Dia dengan sukarela menjawab keraguan Pak Toif. And, I think case is closed. But,…
“Favian, sebenarnya persiapan acara ini agak dadakan. Terus, MC-nya masih belum fix nih. Bisa gak jadi MC?” Dengan tampang innocence Pak Toif memelas minta tolong.
What??? Tanpa ba-bi-bu tiba-tiba gw ditodong jadi MC. Mana belum mandi lagi. Tadi cuma cuci muka dan pake parfum. Pakaian pun seadanya. Baju batik lagi di tumpukan cucian. Namun, bukan lah mahasiswa master kalo mengatasi masalah gini aja gak bisa.
Dengan tampang cool, mata bersinar-sinar kelap-kelip, dan wajah optimis akhirnya gw menjawab, “Ya sudah pak, serahkan padaku. Akan saya tunaikan tugas mulia ini”.
Akhirnya pak Toif pun lega dan bergegas meninggalkan gw menuju ruang sekretariat GIC. Dan akhirnya gw pun kelabakan menyiapkan kata-kata buat nge-MC.
Tapi, itu untungnya gak berlangsung lama. Ternyata skill gw sebagai MC pernikahan dan pernah juga sebagai MC acara ospek kampus sedikit membantu dalam menyusun kata-kata. Dan dalam waktu singkat juga, gw coba hapal kembali Ar rum 21 sebagai surat pembukaan untuk acara pernikahan.
Setelah persiapan yang memakan waktu hampir satu jam, acara pernikahan pun dimulai. Sebelum menginjak acara inti, acara dimulai dulu dengan penyerahan kuasa dari wali mempelai ke penghulu via telepon. Hal ini penting sekali lho, karena salah satu rukun nikah adalah kehadiran wali. Dan karena, wali dari mempelai wanita ada di Indonesia, ya tentu saja prosesi penyerahannya harus via telepon.
Setelah prosesi penyerahan kuasa dari wali mempelai wanita ke penghulu, maka acara inti bisa segera dimulai. Sama seperti kebanyakan acara pernikahan yang lainnya, acara ini dibuka dengan “basa-basi” oleh MC, yang kemudian dilanjutkan oleh qiro’ah+sari tilawah, sambutan ketua pengurus GIC, dan acara inti yang ditunggu-tunggu (ijab-qobul).
Ada momen yang cukup menarik. Pada saat selesai prosesi penyerahan kuasa dari wali mempelai wanita ke penghulu, tiba-tiba menetes air mata dari mempelai wanita. Mungkin karena merasa terharu sekian lama memendam rasa ingin segera menikahi laki-laki yang di sampingnya. Atau apa ya? Gw gak tw pasti sih, karena perasaan wanita memang susah ditebak, sampai-sampai ada pepatah, dalam laut bisa diukur, dalamnya hati wanita siapa tahu.
Yah, mungkin sekian dulu reportasi pernikahan dari GIC – Gumi – South Korea. Semoga bisa menambah informasi dan motivasi buat penulis dan pembaca.








“Ada momen yang cukup menarik. Pada saat selesai prosesi penyerahan kuasa dari wali mempelai wanita ke penghulu, tiba-tiba menetes air mata dari mempelai wanita. Mungkin karena merasa terharu sekian lama memendam rasa ingin segera menikahi laki-laki yang di sampingnya.”
Part yang ini agak ngaco ga sih opininya? -__-”
Well, meskipun suka2 yang nulis.
Tapi kenapa bukan, “…mungkin karena mempelai wanita sedih moment pentingnya tidak dihadiri oleh keluarganya.”
seems better than yours
haha… maklum masih newbie masalah tulis-menulis…
But, anyway, nice comment… later I will make it more realistic..